Puncak Harmoni bukanlah sekadar barisan bukit hijau berhias pinus yang dijajakan sebagai objek wisata ekologi. Bagi masyarakat adat suku Mori yang mendiami pesisir Teluk Solor dan bentangan bukit Saba Mortara, puncak tinggi ini merepresentasikan lembaran sejarah perdamaian kuno yang sakral.
Dalam memori kolektif yang dituturkan lisan turun-temurun, puncak perbukitan ini dahulu kala difungsikan sebagai wilayah netral (tanah perdamaian). Di tempat inilah para kepala suku dan pemuka marga yang bertikai di masa lalu berkumpul untuk berdialog. Di bawah saksi heningnya semesta dan dinginnya kabut subuh, mereka meletakkan senjata tajam mereka, meminum air bambu bersama, dan mengucapkan sumpah persaudaraan abadi: "Sopo rentu riri ndano, ndano rentu riri sopo"—sebuah ikrar sakral suku Mori untuk saling menopang beban hidup dan memelihara kelestarian alam sebagai penjamin keberlangsungan hidup keturunan mereka.
Kini, saat Anda mendaki jajaran pinus menuju Puncak Harmoni, hembusan angin sejuk perbukitan dan pemandangan luas Teluk Solor seolah membangkitkan kembali memori kedamaian tersebut. Destinasi ini mengajak para wisatawan tidak hanya menikmati lanskap estetisnya yang memukau, namun juga menghayati keheningan spiritual yang ditawarkan—menjadikan Puncak Harmoni sebagai destinasi yang benar-benar memurnikan pikiran dan merestorasi harmoni dalam jiwa setiap insan yang mengunjunginya.